Tuesday, September 04, 2012

C is for Company!



Siapa VOC yang biasa kita kenal di pelajaran sejarah? Yang tersisa di kepala kita dari pelajaran di sekolah dulu, VOC = Belanda. Tidak begitu.

Kepanjangan VOC adalah Verenigde Oost-Indische Compagnie, atau Persatuan Dagang Asia Timur.

Ternyata ini adalah perusahaan dagang Kerajaan Belanda. Perusahaan. Bahkan VOC disebut-sebut sebagai perusahaan multinasional pertama di dunia. Sebagian besar pemegang sahamnya ternyata perusahaan-perusahaan dagang dan pribadi. Tercatat sekitar 358 perusahaan dagang dan pribadi berkontribusi pada pembentukan saham awal VOC. VOC dibangun untuk menyaingi armada dagang Inggris, setelah para pelaut Belanda menemukan sumber rempah-rempah pedagang Portugis di Maluku.

Dibentuk di awal abad ke 17, VOC memboyong sumberdaya alam negara-negara di Asia Timur, terutama rempah-rempah dan kayu,  dari Indonesia, agar kerajaan Belanda dapat menunjang kemewahan hidup keluarga kerajaan, sekaligus memperluas wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan Eropa saat itu, hingga ke Afrika dan Amerika Selatan. Antara tahun 1602 hingga tahun 1796, dengan 4785 armada kapal, VOC mengangkut lebih dari 2.5 juta ton sumberdaya alam dari Asia untuk dijual di daratan Eropa! 


Struktur yang sama, berlaku 4 abad kemudian. Hingga saat ini. Dulu VOC memiliki kekuasaan semi pemerintah, seperti kekuasaan untuk membuat perjanjian, mengadakan perang, dan menangkap. Sekarang, tidak terlalu jauh berbeda. Negara pun masih dikuasai perusahaan. Siapa yang membiayai biaya kampanye untuk Pilkada dan Pemilu? siapa yang membuat partai-partai terus bergeliat? 

Setelah kekuasaan didapat, para pemimpin ini berhutang pada perusahaan-perusahaan yang telah membiayai kampanye mereka. Dibuatlah jalur-jalur mulus agar perusahaan itu bisa menanamkan investasinya. Hukum dibuat memihak pada perusahaan, atas nama keamanan negara (padahal untuk kelancaran investasi) dan pertumbuhan ekonomi.

Monday, August 27, 2012

Terimakasih Tuan Fritz Haber!



Di bangku kuliah dulu, dosen saya bilang: yang membatasi jumlah kehidupan yang dapat tumbuh di suatu tempat adalah kandungan nitrogen yang dapat digunakan oleh makhluk hidup untuk memproduksi biomassa.

Nitrogen. Protein di dalam tubuh kita termasuk DNA, yang membentuk diri kita, terdiri dari nitrogen sebagai unsur penting.

Udara yang kita hirup, tiga kali lipat mengandung gas nitrogen dibandingkan oksigen. Tapi nitrogen di udara tidak terlalu berguna buat makhluk hidup. Sebagian besar makhluk hidup tidak dapat menggunakan nitrogen yang ada di udara, meskipun jumlahnya berlimpah!

Nitrogen baru berguna buat makhluk hidup, dalam bentuk amonia, senyawa yang berbau pesing. Jadi, perlu ada cara untuk mengubah gas nitrogen menjadi nitrogen dalam bentuk amonia.

Di alam, tugas ini diemban oleh bakteri pengikat nitrogen. Si bakteri ini seringkali ditemui hidup bersama di akar tanaman kacang-kacangan. Lewat bakteri ini, nitrogen diubah menjadi amonia, yang kemudian digunakan untuk pertumbuhan tumbuhan. Ketika dimakan oleh binatang pemakan tumbuhan, maka nitrogen ini berpindah dari tumbuhan ke hewan, dan masuk ke dalam jejaring makanan. Begitu seterusnya.

Bakteri pengikat nitrogen di udara ini bekerja selama jutaan tahun. Di awal abad ke 20, Pak Fritz Haber menemukan proses kimia yang dapat mempercepat pembentukan amonia ini dalam skala industri: dia membuat reaksi antara gas alam dengan udara bebas yang menghasilkan amonia.

Reaksi kimia ini menjadi awal dari kebangkitan revolusi hijau di pertengahan abad ke dua puluh. Tiba-tiba nitrogen tidak lagi menjadi pembatas. Satu-satunya peran pengikat nitrogen oleh bakteri, sekarang sudah dapat dilakukan dalam skala besar oleh manusia sendiri. Lewat revolusi hijau manusia menggenjot produksi pangan lewat pupuk nitrogen.

Begitu pentingnya reaksi kimia yang ditemukan Pak Fritz Haber ini. Diperkirakan, setengah dari nitrogen yang ada di dalam tubuh manusia saat ini, setengahnya berasal dari proses kimia Pak Fritz Haber. Atau, mungkin bisa kita bilang bahwa setengah dari populasi manusia dunia saat ini berasal dari nitrogen yang dihasilkan lewat proses kimia dari Pak Fritz Haber!

Proses jutaan tahun oleh bakteri, hanya butuh waktu sekitar 1.5 abad untuk mendapatkan nitrogen dalam jumlah yang sama.

Munculnya amonia dalam jumlah besar ini mengubah keseimbangan kimia di bumi. Salah satu dampak yang langsung terlihat, tiba-tiba kehidupan muncul dalam jumlah yang berlimpah, terutama spesies Homo sapiens. Tiba-tiba terjadi ledakan populasi di seluruh dunia. Kebutuhan makanan makin banyak, kebutuhan lahan makin banyak!

Tidak semua nitrogen dari pupuk itu terserap, sebagian masuk ke perairan, menumpuk di badan-badan air, menciptakan zona-zona mati dan ledakan alga

Di alam, ada semacam mekanisme umpan balik. Ketika terjadi penumpukan nitrogen, ada bakteri lain yang bekerja melepaskan nitrogen kembali ke udara. Tapi dengan cepatnya produksi nitrogen oleh manusia, mekanisme umpan balik ini tidak dapat berjalan, bahkan berhenti.

Di sisi lain sebenarnya manusia, termasuk hewan, menghasilkan nitrogen dalam bentuk amonia yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Seorang praktisi permakultur menyebut air kencing kita sebagai "liquid gold". Seringkali kita membuangnya begitu saja padahal di saat yang sama, ia bisa sangat bermanfaat bagi proses pertanian. Bila kita dapat menangkap nitrogen yang melewati tubuh kita sendiri, maka kebutuhan untuk membuat pupuk kimia melewati proses Haber dapat dikurangi.



Wednesday, August 15, 2012

Paradoks





terjemahan bebasnya:

kita punya rumah lebih besar, tapi jumlah keluarga yang lebih kecil
hidup lebih nyaman, tapi kekurangan waktu (untuk menikmati kenyamanan itu)
kita punya lebih banyak pengetahuan, tapi tidak dapat memutuskan/bertindak
ada lebih banyak orang yang ahli, tapi lebih banyak juga masalah

Lebih banyak obat dihasilkan, tapi tingkat kesehatan masyarakat menurun
Kita sudah melakukan perjalan pulang pergi ke bulan, tapi tidak bisa menyeberang jalan untuk bertemu dengan tetangga baru.
Kita menciptakan komputer-komputer baru untuk menampung lebih banyak informasi, mencetak lebih banyak, tapi semakin jarang berkomunikasi

Kita mengingkan kuantitas, tapi kekurangan kualitas
Ini adalah jamannya makanan cepat saji, tapi pencernaan lambat.
Masa di mana banyak orang keren, tapi tidak memiliki karakter
Masa dimana kita mencari keuntungan finansial sebesar-besarnya, tapi kekurangan hubungan sosial

Ini adalah masa dimana banyak benda dipajang di jendela, tapi tak ada apapun di dalam ruangan.

Selamat Lebaran!

Friday, July 20, 2012

Mantra Kemandirian


Katanya mau membangun Kemandirian masyarakat. Indah kedengarannya. Seperti mimpi: Masyarakat yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, tidak bergantung pada pihak lain untuk menghidupi diri dan kehidupannya.

Banyak pihak, mengaku sebagai pendamping masyarakat, didorong oleh ketulusan hati untuk membantu, datang dan membantu masyarakat untuk jadi lebih mandiri. Dengan dana dari pihak luar, mereka bekerja. Lalu muncul dilema. Di satu sisi, ingin memandirikan masyarakat, di sisi lain, perlu berdamai dengan agenda yang telah disepakati bersama pendana.

Cita-cita semula memandirikan masyarakat. Lalu ditengah kekalutan jadwal, berubah menjadi direktif, dan satu arah: lama, katanya, kalau mau mengikuti kecepatan masyarakat.

Itulah dia.

Memandirikan, mesti berawal dari memerdekakan. Memerdekakan diri sendiri, dan memerdekakan orang lain, lalu bekerjasama sebagai sesama orang merdeka.

Proses memerdekakan adalah sebuah perjalanan panjang. Tidak ada orang lain yang bisa memerdekakan seseorang , kecuali dirinya sendiri. Dalam perjalanan itu, orang perlu diingatkan.. Lagi dan lagi dan lagi dan lagi.. Bahwa dirinyalah yang perlu memutuskan dan mengambil tanggung jawab atas keputusan itu.

Setiap kita mengalami masa penjajahan yang panjang. Kita diberi pendidikan, tapi tidak dimerdekakan dari diri kita sendiri. Kita melihat sosok pemimpin sebagai seseorang yang bisa memutuskan segalanya dalam hidup kita. Dan bila keadaan berubah buruk, kita salahkan dia yang mengambil keputusan. Hidup lebih mudah seperti itu. Katanya: memang seharusnya demikian… tapi kenapa harus begitu? Kita yang memutuskan untuk tidak mengubah apa yang seharusnya itu

Menjadi merdeka dan mandiri, berarti berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap hasil keputusan itu.

Wednesday, July 04, 2012

Kekuatan Kata-kata


Haven't you heard? it’s a battle of words… 
Pink Floyd – Us and Them


The Tower of Babel by Pieter Bruegel the Elder (1563)

Kata-kata mengubah dunia. Manusia menanamkan ide dalam kepala orang lain dengan berkata-kata. Manusia bertukar ide, dan membangun sesuatu lewat kata-kata. 

Begitu dahsyat kekuatan kata-kata, hingga Tuhan menghancurkan menara Babylonia..

Saturday, June 30, 2012

Pembangunan Seperti Apa?


Pembangunan seperti apa?

Saya yakin, model pembangunan seperti inilah yang sedang kita jalani. Kita membangun untuk proses pembangunan itu sendiri: roda-roda pemabangunan melumatkan semua yang ada di tengah jalannya. Di Indonesia, sejak masa pemerintahan Orde Baru, berapa banyak suku dayak di Kalimantan yang berubah gaya hidupnya, atas nama pembangunan sumberdaya manusia – dan jangan lupa: mulusnya usaha HPH.

pola seperti ini mungkin akan terjadi di tempat-tempat lain di Indonesia. dan bukan yang pertama kali. Afrika mungkin jadi saksi pertama bagaimana masyarakat dan alam di hancurkan atas nama pembangunan.
berikut adalah pidato dari Roy Sesana, pemuka masyarakat suku San, masyarakat yang bertahan puluhan ribu tahun di  Kalahari, Afrika yang sekarang sedang terdesak roda pembangunan (sigh). 

Silahkan simak vidionya:


berikut juga pidato dari Roy Sesana:

"What kind of development is this when the people live shorter lives than before?"
Roy Sesana, the Alternative Nobel Prize winner, speaks
Right Livelihood Award address, Stockholm,
9th December 2005

"My name is Roy Sesana; I am a Gana Bushman from the Kalahari in what is now called Botswana. In my language, my name is 'Tobee' and our land is 'T//amm'. We have been there longer than any people have been anywhere.

When I was young, I went to work in a mine. I put off my skins and wore clothes. But I went home after a while. Does that make me less Bushman? I don't think so.
I am a leader. When I was a boy we did not need leaders and we lived well. Now we need them because our land is being stolen and we must struggle to survive. It doesn't mean I tell people what to do, it's the other way around: they tell me what I have to do to help them.

I cannot read. You wanted me to write this speech, so my friends helped, but I cannot read words - I'm sorry! But I do know how to read the land and the animals. All our children could. If they didn't, they would have all died long ago.

I know many who can read words and many, like me, who can only read the land. Both are important. We are not backward or less intelligent: we live in exactly the same up-to-date year as you. I was going to say we all live under the same stars, but no, they're different, and there are many more in the Kalahari. The sun and moon are the same.

I grew up a hunter. All our boys and men were hunters. Hunting is going and talking to the animals. You don't steal. You go and ask. You set a trap or go with bow or spear. It can take days. You track the antelope. He knows you are there, he knows he has to give you his strength. But he runs and you have to run. As you run, you become like him. It can last hours and exhaust you both. You talk to him and look into his eyes. And then he knows he must give you his strength so your children can live.

When I first hunted, I was not allowed to eat. Pieces of the steenbok were burnt with some roots and spread on my body. This is how I learned. It's not the same way you learn, but it works well.
The farmer says he is more advanced than the backward hunter, but I don't believe him. His herds give no more food than ours. The antelope are not our slaves, they do not wear bells on their necks and they can run faster than the lazy cow or the herder. We run through life together.

When I wear the antelope horns, it helps me talk to my ancestors and they help me. The ancestors are so important: we would not be alive without them. Everyone knows this in their heart, but some have forgotten. Would any of us be here without our ancestors? I don't think so.
I was trained as a healer. You have to read the plants and the sand. You have to dig the roots and become fit. You put some of the root back for tomorrow, so one day your grandchildren can find it and eat. You learn what the land tells you.

When the old die, we bury them and they become ancestors. When there is sickness, we dance and we talk to them; they speak through my blood. I touch the sick person and can find the illness and heal it.

We are the ancestors of our grandchildren's children. We look after them, just as our ancestors look after us. We aren't here for ourselves. We are here for each other and for the children of our grandchildren.

Why am I here? Because my people love their land, and without it we are dying. Many years ago, the president of Botswana said we could live on our ancestral land forever. We never needed anyone to tell us that. Of course we can live where God created us! But the next president said we must move and began forcing us away.

They said we had to go because of diamonds. Then they said we were killing too many animals: but that's not true. They say many things which aren't true. They said we had to move so the government could develop us. The president says unless we change we will perish like the dodo. I didn't know what a dodo was. But I found out: it was a bird which was wiped out by settlers. The president was right. They are killing us by forcing us off our land. We have been tortured and shot at. They arrested me and beat me.

Thank you for the Right Livelihood Award. It is global recognition of our struggle and will raise our voice throughout the world. When I heard I had won I had just been let out of prison. They say I am a criminal, as I stand here today.

I say what kind of development is it when the people live shorter lives than before? They catch HIV/AIDS. Our children are beaten in school and won't go there. Some become prostitutes. They are not allowed to hunt. They fight because they are bored and get drunk. They are starting to commit suicide. We never saw that before. It hurts to say this. Is this 'development'?

We are not primitive. We live differently to you, but we do not live exactly like our grandparents did, nor do you. Were your ancestors 'primitive'? I don't think so. We respect our ancestors. We love our children. This is the same for all people.

We now have to stop the government stealing our land: without it we will die.
If anyone has read a lot of books and thinks I am primitive because I have not read even one, then he should throw away those books and get one which says we are all brothers and sisters under God and we too have a right to live.
That is all. Thank you."
Roy Sesana
First People of the Kalahari, Botswana

Wednesday, June 13, 2012

Menambah Kebahagiaan


Saya percaya, kebahagiaan hanya jadi kenyataan bila ia terbagi. 

Sebuah barang jadi meningkat nilai kegunaannya, atau meluas manfaatnya bukan hanya pada kita, tapi juga pada orang lain. 

Uang yang menumpuk sebenarnya hanya memuaskan rasa aman kita saja, yang bisa diperoleh dengan cara lain. Sementara , berapa banyak orang yang lebih membutuhkan uang itu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya? 

Mobil yang kita punya. Berapa banyak kursi yang kosong pada saat kita berangkat ke kantor pagi ini? Berapa orang tetangga yang terpaksa berdesak-desakan di bis dan KRL, padahal sejurusan dengan kita? 

Alangkah berbahagianya kalau saja kita bisa pergi bersama :)

Friday, June 01, 2012

menjadi kaya dan (membuat orang lain) miskin


Dengan berkata bahwa "orang jadi miskin karena kemalasan dan kebodohannya" kita menutup mata dan membohongi diri pada kenyataan bahwa kita mungkin menjadi bagian dari penyebab kemiskinan mereka.

Mudahnya, seringkali kita tidak menyadari bahwa kekayaan (material) di dunia ini terbatas dan tidak bertambah jumlahnya. Jadi kalau anda kaya dan menumpuk materi, anda mengurangi jatah orang lain. Tapi saya mungkin akan diludahi sebagai komunis, karena fakta yang tidak bisa dibantah.

Tuesday, May 22, 2012

Membeli sampah: apakah solusi?


makin banyak uang, makin banyak konsumsi. makin banyak konsumsi, makin banyak sampah. memberikan insentif uang untuk mengolah sampah justru mendorong konsumsi lebih banyak sehingga menghasilkan sampah lebih banyak...

kata Einstein: kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara berpikir yang sama yang menyebabkan masalah itu.

justru kita harus keluar dari penyebab meningkatnya jumlah sampah.. bukan memperkuat :)