Thursday, January 05, 2006

dasar komedi!

71 orang meninggal di Jember.

Wakil Bupati Jember Chusen Andalas, bilang:

tidak menampik fakta ada hutan gundul. Tapi, menurut Chusen, banjir yang terjadi di kaki Gunung Argopuro itu lebih disebabkan tersumbatnya aliran sungai oleh pepohonan berusia tua. Masyarakat setempat juga dinilai Chusen "berpartisipasi" sebagai pemicu banjir lantaran kurang memperhatikan lingkungan saat membuka lahan untuk berkebun.


Andi Sungkono (aktivis lingkungan Jatim) bilang:
Kami tiga tahun lampau sudah memprediksi kejadian ini [banjir bandang]


Rully Syumanda (Walhi), bilang:
kurangnya kontrol pemerintah soal peruntukan tanah. Rully yang mengaku intensif memantau ke lokasi mengatakan, lereng-lereng bukit dengan kemiringan 40 derajat dikonversi sebagai lahan perkebunan. "Diubah menjadi kebun kopi dan jagung," kata dia. Padahal seharusnya lahan tersebut ditanami dengan tumbuhan berakar kuat. Belum lagi masalah pembalakan liar


MS Kaban, bilang:
Namun, pemerintah sulit mengintervesi pengelola tanah yang punya hak guna tanah atau sertifikat hak milik. Alhasil, permukiman yang merambah sampai ke lereng gunung pun terpaksa dibiarkan.

Untuk memulihkan hutan di Pulau Jawa yang kondisinya tergolong "kanker stadium empat", Kaban berjanji menertibkan peruntukan hutan. "Tutupan hutan [di Jawa] hanya tinggal 18 persen dari angka normal 30 persen," ujar dia. Dephut pun akan merehabilitasi hutan, merelokasi perumahan, dan membasmi para pembalak


orang jember bilang:
terkejut lantaran banjir datang saat mereka lelap. "Seperti suara bom meledak, trus peteng (gelap). Rumah saya habis, paman saya meninggal, saudara saya putus tangannya," ungkap seorang pengungsi. Pengungsi lain menjelaskan, air bercampur lumpur dan batu datang begitu saja. Warga yang fisiknya kuat langsung berlari mencari tempat tinggi. Tapi, tak semua bernasib baik. Sebagian warga hanya mampu berteriak minta tolong sebelum akhirnya tergulung air bah.


Alvito Deannova, reporter SCTV, bilang:
hutan terus menyusut. pemirsa, apa yang akan dilakukan oleh pemerintah terhadap hilangnya kekayaan alam kita itu. nantikan seusai pariwara berikut...


ebiet g ade, dulu, bilang:
mungkin tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa. atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang...


71 ORANG MENINGGAL DI JEMBER!

memalukan. karena kita tidak sedang bermain komedi. karena 71 orang meninggal. dan kita tetap saja bilang "pemerintah bersalah" "masyarakat salah" "seharusnya tidak begitu"

harus berapa lama lagi, harus berapa banyak lagi korban jatuh sebelum akhirnya kita sadar bahwa manusia tidak bisa menguasai bumi 100%. bahwa kita punya batas. bahwa hutan bukan kekayaan alam-tapi penopang hidup. dan kita sadar bahwa memerangi penebangan hutan bukan karena tekanan IMF, pembukaan Taman Nasional baru bukan untuk meringankan beban hutang.

dan.. jangan bawa-bawa nama Tuhan untuk kebodohan manusia.

(uuh,.. how i hate all of this anthropocentrical view!)

dasar komedhi!

sumber dari sini

2 comments:

obot said...

harus 300ribuan orang, pik.. macam di aceh itu.

lantas.. ratusan ribu orang itu terlupakan begitu saja karena orang2 sibuk cari proyek "pembangunan kembali"..

komedi lain

Fendrri said...

ratusan ribu orang itu sekarang sudah jauh lebih tenang daripada kita. Paling ngga mereka udah jelas nasibnya . Disiksa, atau dijamu... Hi Pik. Pa kabar luh.