a tribute to Pak Udin Samsudin
“..situs ieu kasebatna Situs Sanghyang Ujungkulon. Ari anu ngagem di dieu, namina Eyang Prebu Lutung Kasarung...” (...situs ini disebut situs Sanghyang Ujungkulon. Penunggunya adalah Eyang Prabu Lutung Kasarung...), kata laki-laki tua itu berjongkok sambil membersihkan tumpukan batu yang tertutup serasah daun. Kami berada di ketinggian sekitar 1000 mdpl, di Hutan Lindung Gunung Ageung, di Desa Cipasung, Kabupaten Majalengka. Hutan Lindung seluas 64 Ha ini menyimpan 12 situs purbakala.
Bagi orang awam, situs purbakala itu mungkin tak lebih dari sekedar tumpukan batu. Pak Udin Samsudin, laki-laki tua yang bersama saya saat itu, mengubah hal tersebut. Ia menerangkan, menghubungkan saya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tumpukan batu tersebut di masa lalu. Saya jadi mengetahui dongeng masyarakat yang diceritakan turun temurun mengenai tumpukan batu di Gunung Ageung ini, serta bagaimana hubungannya dengan Prebu Siliwangi.
Bersama dengan seorang kawan sebayanya, Pak Udin menjaga dan merawat tumpukan batu tersebut. Sebagai juru kunci, akhirnya Pak Udin diangkat menjadi juru pelihara (Jupel) oleh Balai Arkeologi, setahun yang lalu.
Tiap hari Senin, Pak Udin berangkat ke hutan, menempuh perjalanan menanjak dengan kemiringan hampir 45°, membersihkan situs-situs itu dari tumpukan serasah dan rumput. Tubuh berusia 72 tahun itu, sepertinya tidak mengenal lelah. walaupun terkadang batuk keringnya terdengar, tapi tenaga dan kecepatan Pak Udin berjalan, setara dengan pendaki gunung.
Meskipun secara rutin pekerjaan Pak Udin hanya membersihkan situs-situs tersebut dari serasah, namun untuk orang-orang seperti saya dan wisatawan yang datang ke Gunung Ageung, Pak Udin punya peran sendiri: seorang interpreter. Profesi yang secara teoritis dikenal oleh mereka yang bergelut di bidang pariwisata, tapi jarang diketahui bentuknya.
Dan untuk semua itu, Pak Udin menerima imbalan sebesar Rp 150.000 perbulan, yang dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Tidak cukup, memang. untuk menambah penghasilannya, sehari-hari pak Udin menggarap sepetak sawah miliknya atau membuat peralatan-peralatan rumahtangga dari anyaman bambu di dapur rumahnya. Beruntung ketiga anaknya telah berkeluarga. Dua anak laki-lakinya merantau ke Purwakarta dan Majalengka Utara, sedangkan ia dan istrinya tinggal di rumah yang persis bersebelahan dengan rumah keluarga si bungsu.
Hingga saat ini, situs Gunung Ageung masih menjadi bagian dari budaya bercocok tanam masyarakat. Tiap tahun pada awal masa panen, diadakan upacara ngalaksa. Sementara itu, tamu-tamu yang datang berziarah ke situs purbakala Gunung Ageung cukup banyak. Mereka berasal dari berbagai daerah di Bandung, Jakarta, Indramayu, bahkan orang yang berasal dari Bali dan Sulawesi Selatan. Ini merisaukan Pak Udin. Ia belum menemukan penerus untuk meneruskan tugas yang diembannya dari leluhur, menjaga situs-situs di Gunung Ageung.
Biasanya semua tamu menginap di rumah Pak Udin, sebuah rumah panggung sederhana berdinding kayu yang sering ia sebut sebagai gubuk. Dengan senang hati ia menerima orang-orang tersebut dengan segala perilaku mereka. Biarpun rumah gubuk, tapi hangatnya sampai ke hati.
- kalo ngga ada halangan, tulisan ini akan terbit di Warta Pariwisata edisi Januari 2006...
No comments:
Post a Comment