Dipterocarpus WOW!!
tercengang, dan cuma satu kata yang keluar dari mulut: WOW!!!
dihadapan saya, ada tumpukan buah bersayap. ini fotonya:
saya bawa dua biji, setelah ijin sama Pak Kuncen. ngeri juga, karena ini tempat yang sebetulnya dikeramatkan oleh masyarakat setempat. mungkin justru karena jadi tempat keramat itulah, saya bisa menemukan tumpukan biji bersayap itu di sini.
saya yakin itu adalah biji dari tumbuhan dari suku Dipterocarpaceae. dari hasil identifikasi sepintas-lalu, saya mengenalinya sebagai salah satu jenis tumbuhan dari marga Dipterocarpus.
Dipterocarpus, asalnya dari bahasa Yunani, di - yang artinya 'dua', ptero - yang artinya kurang lebih 'sayap' atau 'terbang', dan karpos - yang artinya 'buah'. jadi Dipterocarpus kurang lebih artinya 'buah bersayap dua'
lantas..?
iya, pohon ini dulu pernah ada di hutan-hutan Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Sekarang, di Jawa, tumbuh-tumbuhan dari suku Dipterocarpaceae - termasuk salah satunya marga Dipterocarpus ini sudah dianggap punah di alam. punah, karena ulah siapa lagi kalo bukan manusia. Dipterocarpus, diketahui punya kayu yang berserat cukup padat, sehingga bernilai ekonomis tinggi. jaman dulu biasanya dipakai untuk membuat jembatan, dan tiang-tiang bangunan. selain kayu, getahnya juga digunakan.
dan sekarang, menemukannya (dengan tidak sengaja) di ketinggian 1000 mdpl di tanah Jawa ini... bener-bener kejutan!WOW!!
Nenek moyang terdekat pohon Dipterocarpus ini pernah hidup di sebelah selatan benua Gondwana, 160 - 200 juta tahun yang lalu. Pohonnya tinggi menjulang. bahkan di dataran rendah Kalimantan sering didapati hutan Dipterocarp. isinya ya, pohon dari jenis-jenis yang termasuk dalam suku Dipterocarpaceae. bayangin pohon-pohon yang tinggi, menjulang lurus, dengan batang yang besar-besar. seperti mimpi.
sekarang, setelah kira-kira dua bulan, dua buah biji yang saya bawa pulang, salah satunya berkecambah. WOW!! hebat! apalagi karena perkecambahan Dipterocarpaceae biasanya harus didukung oleh mychorhizae (sejenis jamur yang hidup di bagian akar, yang membantu kecambah untuk bertahan hidup).
aku belum lihat tampangnya si mychorhizae itu di kecambah di rumahku. tapi katanya kalau sudah cukup mapan, si mychorhizae akan membentuk badan buah, seperti payung. seperti jamur yang biasa kita lihat.
mudah-mudahan buah yang sekarang berkecambah di rumahku sudah dilengkapi dengan hifa-hifa si mychorizhae, jadi pertumbuhannya lebih oke. kali aja idup terus. tapi mau ditanem di mana....? bakal jadi pohon gede, nih..
No comments:
Post a Comment