Showing posts with label on being a biologist. Show all posts
Showing posts with label on being a biologist. Show all posts

Thursday, March 01, 2007

si ejak digigit uler!

wuih!

denger cerita dari dian, kalo si ejak sempet dibawa ke rumah sakit dengan tangan bengkak kehitam-hitaman dan badan yang semakin lemes, bisa ulernya pasti ngancurin sel-sel darahnya. untung ejak ngerti apa yang harus cepet dilakukan. dia ngiket pergelangan tangannya, sementara lukanya di jari manisnya. ulernya sih kecil, cuman segede kelingking orang dewasa. tapi racunnya bisa bikin ejak kleyengan.

sekarang ejak udah sembuh.., beberapa temen yang saya tanya sempet mengidentifikasi pelakunya. diduga pelakunya adalah Micropechis.. tapi saya ngga tau bener apa ngga, karena ular ini katanya ada di daerah New Guinea. saya sendiri ngga liat makhluknya. tapi liat dari efek bisa-nya, mungkin juga betul, karena si Micropechis ini masih satu famili deket sama kobra. mungkin ini dia makhluknya..

kejadian kayak ejak gini jarang banget terjadi. ular, apalagi yang berbisa, cenderung menghindar musuh yang dia udah tau pasti bakal kalah. berani bertempur sampe mati, mengadu nasib dalam pertempuran, cuma konsep manusia. hewan lain bisa ngukur, kalo gelut, kira-kira dia bakal menang atau kalah. kalo kalah, buat apa diterusin? bukan berarti pengecut, kan? tapi efektif :-)

ini berkaitan sama bisa yang diproduksi si ular. bisa ini dipake untuk mencerna makanan. untuk menghasilkan bisa, ular mengeluarkan sejumlah daya upaya dan energi untuk itu. jadi, bisa untuk ular, diliat dari sudut pandang ekonomi, adalah salah satu bentuk investasi. jadi ular yang berbisa, pasti cenderung kabur kalo ketemu musuh yang jauh ngga berimbang buat dia.

ceritanya bisa lain kalo si ular diganggu, atau tanpa sengaja, terganggu. kasus digigit ular, seringnya kejadian karena si korban salah meng-handle ularnya. atau tanpa sengaja, terinjak badannya. tapi inipun jarang terjadi, karena ular bisa merasakan getaran di atas tanah, dan memilih menjauh daripada mencari tau.

cara menghandle ular seperti yang dicontohkan si Panji Sang Penakluk adalah contoh yang ngaudubilah salah banget. ulernya jelas banget ngerasa terganggu, dan kepalanya yang bebas meliuk liuk (karena seringnya si Panji megang uler di pertengahan badan atau di ekornya), beresiko menggigit si pemegang.

jadi, ngga ada tuh uler iseng yang nyari mangsa (khususnya orang) buat di gigit. apalagi uler buas yang gigitin orang, kaya di film Anaconda. uler itu binatang yang efektif dan ekonomis (yah, pada dasarnya semua binatang yang ada sekarang mesti begitu, kalo boros dan ngga efektif, pasti ngga lolos seleksi alam dari kapan taun)..

ngga ada yang perlu ditakutin dari uler. hak mereka untuk hidup layak sebagaimana mestinya di habitatnya, ngga beda sama kita. dan percayalah, mereka tidak pernah pindah habitat dari habitat asli ke habitat manusia. adalah kita, manusia yang mengubah habitat mereka menjadi habitat kita. jadi, ya terima aja lah.. masa tamu ngusir tuan rumah??? kreatip aja dikit biar si uler tetep di rumahnya dan kita tetep di rumah kita..

jadi, ntar-ntar lagi, kalo ketemu uler:

1. jangan tangkap, dan jangan coba menangkap. kecuali untuk kebutuhan ilmiah atau kamu lagi kepepet ngga ada lagi makanan. identifikasi sebetulnya bisa dilakukan kaya orang ngamatin burung,kan..? ngga usah dibawa-bawa ulernya.

2. kalo kebetulan ketemu, jangan panik. jangan bikin gerakan tiba-tiba. tunggu sampe si ulernya ngerasa tenang dan meninggalkan kamu.

3. uler kecil bukan berarti tidak berbisa. di kasusnya ejak, ejak mungkin akan kritis kalo ngga cepet dibawa ke rumahsakit.

4. lebih baik menganggap semua ular berbisa. dengan begitu kita lebih waspada.

jadi yang perlu dikembangkan adalah sikap hormat, karena si uler juga sama-sama nebeng idup di bumi sama kaya kita. dia punya kebutuhan sendiri, dia punya kelebihannya sendiri. keinginan untuk menaklukkan atau menguasai, seperti yang ditunjukkan oleh acara-acara terkait satwa liar, adalah tindakan yang ngga ada gunanya, bodoh, dan malah cenderung membahayakan kita.

Wednesday, February 28, 2007

between Dr Gene Scott and Bonzo,.. there i am!


a chat with om intan suddenly driven to discussion about self formation and complex systems, and how it connected with second law of thermodynamic and evolution...

we have a disagreement.. mostly because we forget much of the theory... (hehe...)

the chat slightly come to brought me a memory of a restless feud between those who believed in evolution theory, and those who didn't. as in my campus, the feud has led to a one day seminar titled, "Adakah Bantahan Terhadap Teori Evolusi?", or, in other words, "is Evolution Theory are really collapsed?".

to be on the both sides of the story of this creationist-evolutionist issue, i was reading books written by Richard Dawkins, an evolutionist, as well as i read books by Harun Yahya. other people might not find it important, but to me it shape my perception of my personal life. and if you ask me, which one do i enjoy reading, I prefer reading Dawkins' book. mostly because the arguments is build on a plain old scientifical explanation. not dogmatic explanation that i feel execute all attempts in trying to find logical explanation too quick. so quick and narrow, it didn't left a room for arguments.

i was believe that science is supposed to be value-free. but in case of evolution versus creation, science has been used to cover such hidden agenda. there might be personal believe or disbelieve in God, for so many reasons.

but using science to explain something irrational, or the other way - rejecting something irrational, is funny. in my believe, this evolutionist-creationist feud has become more absurd and foolish. they use science, in this case, evolution theory to explain their believe. personally i don't really care if there's really any God or not. I don't see what's the good in arguing such things. the task of evolution theory is to explain where we propably come from. not to answer such question.

I think what is important is to become a good being. to our kind and other kind of living being. that, my friend, elevate the very concept of life, said Edward O. Wilson in his book, Biophilia. i receive God as a highest order that shows us ways to become a good being. I don't have to question wheter God is exist or not. Something that I can't think of, will not be apropiate for my small mind. it's like trying to swallow your own head (quote: Agah,2005 unquote)

but my intuition goes beyond. we often seek logical ways to explain it, when there's really no logical way to explain it. we hope too much of science when science was nothing but a tool for our small mind.

as long as science history, we can never really separate it from our believe, our religion, our philosophy, our intuition in knowing what is true and not true. we push it too much when its primary function is to help us recognize our surrounding and to be able to adapt to it. but the temptation is undeniable, for human is an animal with purpose. we're hardly seeing a plain reality without questioning the purpose. Dawkins sees it as a chronic disease for humankind.

i guess science has never been value-free after all.


-bahasa inggrisnya jangan dianggap serius.. grammarnya mungkin kacau :-o...

Wednesday, February 21, 2007

lumut


"lumut?" kata dosen pembimbing saya. "iya, pak" jawab saya setengah meragu. setelah sejenak, kerutan di dahi pak dosen pembimbing mereda. rancangan penelitian yang diterima pak dosen, tidak seberapa mengherankan dibanding ketika ia mendengar keinginan saya untuk meneliti aspek ekologi dari lumut. lalu pak dosen berkata, " ya sudah, kamu cari latarbelakang penelitianmu. coba cari, apakah si lumut itu punya manfaat secara ekonomis, apa potensi yang bisa dikembangkan dari lumut.."

saya mengangguk, mengucapkan terimakasih, lalu pergi ke perpustakaan. berhari-hari mengmpulkan literatur, saya hanya menemukan beberapa jenis lumut, yang tidak hidup di indonesia, ternyata punya potensi antibiotik. separuh bingung, apa hubungan latar belakang itu dengan penelitian saya mengenai komposisi komunitas lumut di dua tempat yang berbeda, saya toh memasukkan data-data itu ke dalam laporan penelitian.

meneliti lumut memang tidak populer. mungkin satu-satunya orang yang mengerti ketertarikan saya, adalah pak dosen biosistematik, yang sempat kerjasama dengan seorang profesor dari sebuah universitas di Jepang dalam penelitian tentang lumut. Pak dosen ini bercerita pada saya tentang antusiasme si profesor Jepang tadi waktu diajak ke berbagai tempat di Jawa untuk mengumpulkan spesimen lumut. untuk koleksinya, dan untuk database herbarium di kampus. Si profesor jepang ini bersorak senang di kompleks keraton di Yogyakarta, karena dia menemukan spesies lumut yang juga dia temukan di Jepang, hidup di sebuah sudut tembok keraton yang terlindung dari matahari. "aneh," kata pak dosen biosistematik, "padahal waktu itu, kami ajak dia ke Keraton bukan untuk cari lumut..."

ada sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan. sulit mencari padanan katanya. entah kenapa, kita tertarik pada hal-hal semacam itu. bunga, kucing, burung, dan dalam kasus saya, lumut. saya menghabiskan waktu seharian penuh, kadang semalam suntuk untuk mengamati dan mengidentifikasi, sampel lumut yang saya bawa dari lapangan. Pak dosen biosistematik, cukup mengerti saya ketika itu. beliau malah meminta saya untuk merapihkan spesimen lumut yang ada di herbarium. saya kerjakan dengan sukarela, karena memang menyenangkan.

dalam sebuah seminar tentang keanekaragaman hayati yang diadakan departemen beberapa bulan kemudian, tiba-tiba saja saya mendapat ide. sudah lama saya merasa ada yang salah dengan latar belakang potensi ekonomi yang saya cantumkan di laporan penelitian saya. saat itu, saya pikir, pada akhirnya kita mungkin hanya akan mengetahui apa yang bermanfaat dari kita. saya pikir sains mestinya dapat keluar dari kekangan semacam itu. nilai-nilai ekonomis itu, justru mengekang sains yang katanya bebas nilai. tapi kemudian timbul pertanyaan: apa manfaatnya kita meneliti sesuatu yang tidak berpotensi untuk dapat dimanfaatkan? bukankah perkembangan sains adalah untuk meningkatkan harkat kehidupan kita, manusia? apakah ada sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kita, justru dapat meningkatkan harkat kehidupan kita?

pertanyaan itu tidak terjawab...

teman-teman menghibur saya, "tidak ada yang tidak bermanfaat, pik... penelitianmu, lumut,.. semuanya pasti bermanfaat, tapi memang tidak langsung.."

ya ya ya,... kita mesti tau kebutuhan dan kecenderungan kondisi lingkugan yang memungkinkan lumut-lumut itu hidup dengan subur untuk mulai membudidayakannya. saya yakin, beberapa genus dalam spesimen yang saya ambil, yang sama dengan genus lumut yang saya baca di literatur, memiliki potensi antibiotik. malah mungkin, bisa jadi obat AIDS,.. hehehe.. mungkin saya hanya menghibur diri sendiri.

Tuesday, January 30, 2007

pandangan orang bukan biologi, tentang biologi

1. biologi = reproduksi.
seakan akan enam tahun sekolah menengah dan empat tahun kuliah, isinya cuma reproduksi. lalu, kamu sebut apa itu dokter boyke? biolog? hehe... you need to check your brain,man! sex is not the only think that you can think of..

for god sake, reproduction system is among 8 systems that form a human body. what made it so special, anyway?

2. biologi = tahu semua hal soal taneman dan hewan.
tanaman apa itu? burung apakah yang barusan terbang? oo, ayo kita tanya dia si ahli biologi... apa? kamu ahli biologi tidak tahu namanya?.. aah.. you orang biologi payah.. palsu!

what am i, a walking encyclopedia of world creature? we learn something much useful than spend years trying to memorize all of their name. we learn to identify them. not memorize them.

3. biologi = teknik lingkungan
biologi itu mata kuliah dasar di peternakan, pertanian, kehutanan, sampe teknik lingkungan di kampus gajah duduk ini pun punya mata kuliah ekologi sebagai mata kuliah pilihan.

yang menyebalkan, ketika sebagian besar materi yang mereka pelajari di teknik lingkungan adalah rekayasa, mereka ngerasa jago banget kalo ngomong soal ekologi. saya kasih tau satu hal, di tingkat tiga, saya ngedrop mata kuliah pilihan ekologi yang diselenggarakan teknik lingkungan, karena saya pikir itu pelajaran SMP. saya ngga mau buang-buang waktu satu semester belajar begituan.. hehe.. meskipun saya pikir mata kuliah itu harusnya jadi mata kuliah wajib untuk mahasiswa teknik lingkungan, supaya rekayasa yang dilakukan ngga mengorbankan sistem yang lain di alam. tapi kalo you orang ngomong soal rekayasa pencemaran, dll,... yah, itu memang bidang kalian, so be good at it.



ada empat point yang dipelajari di SMP, pelajaran biologi kelas 1 bab 1: pertama, apa itu biologi; kedua, bagaimana sejarah perkembangan biologi; ketiga, cabang dari ilmu biologi; keempat, cara berpikir ilmiah.

para penganut tiga hal di atas mesti ngga beres pelajaran biologi SMPnya. ngga ada salahnya buka-buka buku SMP, meskipun anda sekarang sudah jadi doktor... :)

Friday, January 26, 2007

flu burung

"ayam yang bersin, saat ini jauh lebih ditakuti daripada harimau yang mengaum.."

flu burung gelombang kedua. dari kompas, sampai tanggal 21 Januari kemarin tercatat 5 orang meninggal karena flu burung. setau saya, kita umat manusia ini belum pernah menemukan obat untuk semua penyakit yang disebabkan oleh virus. dari mulai flu sampai hepatitis sampai flu. yang kita lakukan adalah mencegahnya dengan imunisasi. tapi, seperti halnya flu biasa, virus flu burung juga mudah bermutasi, dengan mutan yang tetap kompatibel dengan host-nya. dari data WHO, hingga tanggal 12 Januari, yang tercatat meninggal karena flu burung, baru 1 orang. empat orang lainnya mungkin baru suspect flu burung.

ada dua pendapat tentang penyebaran flu burung ini. yang pertama mengatakan bahwa flu ini berasal dari burung-burung liar yang menyebarkannya pada burung-burung peliharaan. pendapat kedua bilang bahwa flu burung ini justru berasal dari burung-burung domestik.

beberapa waktu yang lalu, F. Rahardi menulis tentang Petaka Sodom Gomorah. menurut dia, penyebaran flu burung diperparah karena sisa-sisa bagian tubuh unggas yang tidak terpakai, terutama tulang, bagian lemak dan jeroan itu digiling, lalu dicampurkan dengan dedak dan dimakan oleh ayam yang lain. maksudnya, ayam-ayam peliharaan itu nasibnya memang sial banget. sudah hidup berjejal-jejal, sudah disuntiki hormon, dibuat jadi kanibal pula..

berita ini memperkuat dugaan saya bahwa virus flu burung ini memang berasal dari sentra-sentra peternakan unggas...

unggas liar yang mati terserang flu burung sudah pasti akan ditinggalkan oleh kawanannya, sehingga kemungkinan si virus menyebar ke kawanannya menjadi semakin kecil. paling parah, si virus akan menyerang si pemakan bangkainya. burung bangkai, misalnya. kecuali burung bangkai dimakan manusia, virus flu burung tidak akan menyebar ke manusia.

kasus-kasus manusia yang menderita flu burung, menunjukkan bahwa virusnya memang kompatibel dengan manusia. proses mutasi yang menyebabkan si virus itu kompatibel dengan manusia dan ayam, terjadi jika dan hanya jika lewat proses kontak yang intesif antara manusia dan ayam. nah,.. dimana lagi hal itu terjadi kalau bukan di sentra peternakan? virusnya mungkin berasal dari alam. tapi penyebarannya memang dimagnifikasi oleh sentra-sentra peternakan unggas itu.

Tuesday, January 02, 2007

ngga usah kawin, partenogenesis aja lagee...


sementara Aa berpoligami, Flora, komodo betina yang hidup di Chester Zoo di Inggris, bertelur tanpa campur tangan pejantan.

Flora adalah komodo betina kedua yang menunjukkan hal ini. sebelumnya Sungai, komodo yang hidup di London Zoo, juga pernah bertelur tanpa pejantan. namun karena Sungai bertemu komodo jantan dua tahun sebelumnya, para ahli menduga komodo memiliki kemampuan superfekundasi, yang kemudian terbukti salah pada kasus Flora, yang katanya dijamin perawan :)

saya jadi inget film Godzilla, dimana si kadal raksasa itu juga bertelur, padahal kadal itu satu satunya kadal raksasa. salut lah sama yang bikin skenario,... hehe

ini bukan boongan, kalo ngga percaya, sumber beritanya sini (BBC). kalau mau tau lebih jah tentang komodo, superfekunditas, ata parthenogenesis bisa liat sini.

pilihan ber-parthenogenesis ini ternyata tidak selamanya digunakan. seks adalah lompatan yang mempercepat laju evolusi. semua anak yang menetas dari telur Flora dan Sungai berjenis kelamin jantan (kalo lupa pelajaran SMA, dan pengen lebih jelas kenapa, liat link ini). jadi dengan satu individu betina, dan minimal satu telur yang selamat menjadi pejantan, si individu betina ini akan membentuk satu populasi dengan mengawini anaknya tadi. lewat perkawinan, peluang mendapat anak-anak dengan jenis kelamin betina:jantan jadi 50:50, dan peluang mendapat keturunan yang lebih sintas, jadi lebih besar. ternyata seks, kalo digunakan pada saat dan tempat yang tepat, banyak kebaikannya.. ngga mesti heboh. beberapa agama malah melarang umatnya untuk kawin karena kawin dianggap perbuatan najis. padahal agama ngga akan punya umat lagi, kalo umatnya ngga ada yang kawin.. :)

jadi ini rahasianya kenapa spesies ini masih bertahan hidup selama 4 juta tahun! komodo adalah pemanjat pohon dan perenang yang baik. ketika dia mencapai kepulauan komodo, kepulauan muda yang letaknya cukup terisolasi, komodo menjadi predator tertinggi, dan bertahan hidup hingga hari ini. hanya perlu satu betina yang berhasil mencapai kepulauan ini.

aku jadi inget dialog di sebuah film, kalo ngga salah Relic: "nature is a very big laboratory, and life will find its way to survive.."

keren... jadi pengen liat aslinya di Pulau Komodo...!

Wednesday, December 13, 2006

freshwater eel in Toraja

sebelumnya di posting di situs sebelah,..

seekor belut air tawar..
ketemu di salah satu objek wisata di Toraja...mungkin salah satu Anguillidae yang hidup di air tawar di Indonesia. kata orang setempat, belut ini bertelur di laut, mirip perilaku belut air tawar dari Anguillidae. ada yang tau, bener apa ngga?

jarak dari Toraja ke laut terdekat di Palopo itu sekitar 70 kilometer,.. jadi kebayang, kan migrasi si belut kalo mau bertelur.. dan diperairan sulawesi, tepatnya di teluk Tomini, sudah pernah ada penelitian tentang belut air tawar yang menetas di sana.. menempuh jarak ratusan kilometer untuk bertelur. temen saya bilang di danau Poso, juga ada belut air tawarnya.

yang menarik, tempat saya menemukan ikan ini adalah sebuah danau yang terbentuk dari ceruk batuan kapur. ngga ketauan dimana inlet dan outletnya. belut yang sempet saya liat (dan pegang) ini adalah belut yang sakit. kata orang, kalo sehat, ngga mungkin bisa dipegang, karena galak. waktu saya tanya apa belut ini dimakan, mereka bilang ngga, karena belut ini dikeramatkan. kalo mati dia akan dikubur.

panjangnya 1.5 meter. sirip punggung ada dan bersatu membentuk kipas di bagian ekor, dengan sirip perutnya. tapi sirip perutnya ngga penuh sampe ke bagian perut.

great! karena penelitian tentang belut air tawar di sulawesi baru dilakukan sama peneliti Jepang di Teluk Tomini... setidaknya yang hasil penelitiannya dipublikasi...


berikut beberapa fotonya. sori kalo gambarnya agak ngga jelas..



















dan update:

kemarin ketemu sama Pak Daru, kurator musium Biologi, beliau juga cerita tentang si belut ini, dan ternyata tidak hanya ada di Sulawesi, Kalimantan dan sekitarnya,.. di Kali Brantas juga ada! cuman mungkin udah hilang karena sedimentasi yang terlampau dahsyat. sayang sekali...:(

sebetulnya kita bisa cerita tentang si belut ini, yang migrasinya tidak kalah jauh dengan ikan salmon. ngga tau sih, banyak juga yang saya belum tau.. kalo ada yang tau, ditunggu komentarnya, okay..?